suap di wakil rakyat.

Kompleks DPR Senayan, Jakarta. Di gedung megah inilah segudang harapan masyarakat Indonesia dipertaruhkan. Berharap agar anngota dewan mendengar segala aspirasi rakyatnya. Tapi, harapan bisa jadi tinggalah harapan. Para wakil rakyat kini justru tengah mempertunjukkan potret terburuknya dalam sejarah politik kita. Satu per satu skandal besar dugaan korupsi yang menyeret para anggota dewan terkuak.

Sejauh ini, sedikitnya ada sembilan kasus korupsi yang menyeret-nyeret anggota dan bekas anggota DPR. Antara lain kasus suap dalam proyek alih fungsi hutan lindung di Bintan, Kepulauan Riau, pengadaan kapal patroli di Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan, proyek Pelabuhan Tanjung Api-Api di Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan, dan aliran dana Bank Indonesia. Dalam kasus aliran dana BI, Hamka Yandhu dalam persidangan Tindak Pidana Korupsi menyebut ada 52 aggota Komisi IX DPR yang kecipratan uang itu.

Menurut riset Indonesian Corruption Watch (ICW), DPR menduduki peringkat tertinggi sebagai lembaga negara terkorup di negeri ini. Badan Kehormatan DPR mengakui tradisi suap di DPR masih berlangsung. Tapi, dengan hanya 13 anggota, bukan hal yang mudah mengawasi 550 wakil rakyat yang berkantor di Senayan. “Kami tidak bisa terus menerus memperhatikan peran atau kehidupan dewan yang ada 550 orang,” kata Gayus Lumbun, Wakil Ketua Badan Kehormatan DPR.

Suap dan lobi-lobi kepada politisi tidak hanya berhenti pada pemberian uang dan barang-barang berharga saja. Adakalanya suap juga meluas ke ranah yang paling primitif. Seks dan perempuan. Rekaman pembicaraan antara Sekretaris Daerah Kepulauan Bintan Azirwan dengan anggota DPR Al Amin Nur Nasution yang diperdengarkan di persidangan Tipikor, beberapa waktu lalu, seolah-olah membenarkan dugaan publik bahwa suap juga bisa berbentuk suguhan seks dan perempuan.

Sumber Sigi, seorang pemasok perempuan malam kelas elit di Jakarta menyebut, dalam sebulan, selalu saja ada pesanan untuk lobi-lobi pejabat yang dia terima. Termasuk di antaranya anggota dewan. Mulai dari sekadar pemanis lobi hingga teman kencan. Jaringan pemasok perempuan untuk lobi-lobi politik amat rapi. Kadang pemasok maupun wanita yang dikirimnya belum tahu siapa orang yang dituju sebelum sampai di hotel. Yang paling lazim, transaksi terjadi di luar kota atau bahkan luar negeri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: